
Meski metropolitan, Berlin masih menyediakan sarana transportasi bertenaga manusia. Jika di Jakarta becak diuberuber supaya keluar dari jalur protokol, becak Berlin yang dinamai “velotaxi” ini bebas narik penumpang di mana saja.
Wulan Tunjung Palupi
MAKHACHKALA - Dua ledakan bom bunuh diri terjadi di Dagestan, selatan Rusia, Rabu (31/3). Padahal, Senin (29/3) lalu, dua ledakan bom bunuh diri juga terjadi di kereta bawah tanah di Moskow, menewaskan 39 orang.
Bom bunuh diri di wilayah Kaukasus Utara ini menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai 18 lainnya. Sembilan orang di antara korban tewas adalah polisi.
Berbeda dengan bom bunuh diri di Moskow yang pelakunya dua wanita, serangan di Dagestan ini salah satunya dilakukan oleh pelaku berseragam polisi. Menteri Dalam Negeri Dagestan, Rashid Nurgaliyev, mengatakan, salah satu pelaku meledakkan bomnya di Kota Kizlyar di dekat perbatasan Dagestan dengan Chechnya, ketika polisi hendak memberhentikan mobil pengebom.
"Polisi Lalu Lintas mengikuti mobil itu dan mereka nyaris tertangkap, kemudian ledakan itu menghantam," kata Rashid. Mobil yang dinaiki para pengebom itu sedang menuju pusat Kota Kizlyar, di mana terletak gedung sekolah dan bangunan pemerintah.
Saat pihak berwenang dan penduduk berkumpul di lokasi ledakan, pengebom kedua yang mengenakan seragam polisi dengan bahan peledak di tubuhnya, meledakkan bom. Bom kedua ini menewaskan kepala polisi Kizlyar beserta anak buahnya.
Dua pengeboman berturut-turut itu menandai kembalinya serangan teroris ke Rusia setelah enam tahun vakum. Dagestan yang masuk wilayah Kaukasus Utara yang berbatasan dengan Chechnya dan Ingushetia, relatif lebih sering jadi sasaran teror. Polisi kerap jadi targetkarena mereka mewakili penegak hukum federal, musuh ideologis separatis.
Kebijakan garis keras Sementara itu, serangan bom di kereta bawah tanah (subway) di jantung Kota Moskow, Senin (29/3) lalu, membuat Perdana Menteri Rusia, Vladimir Putin, kembali mengobarkan perang melawan terorisme. Ia menggunakan lagi jargon-jargon keras yang membantunya memenangkan pemilu 1999.
Pelaku pengeboman bunuh diri yang menewaskan 39 orang itu, kata Putin, harus dikorek "dari dasar selokan" dan diekspos ke muka umum. Aktivis mengkhawatirkan Putin akan kembali pada kebijakan garis kerasnya. Dalam rapat keamanan transportasi yang digelar Selasa (30/3), Putin menegaskan, kamera pengintai tak bisa mencegah serangan teroris, tapi mungkin membantu polisi mengidentifikasi mereka.
"Kita tahu mereka sedang bersembunyi, tapi ini masalah kehormatan badan penegak hukum untuk mengorek mereka dari dasar selokan dan menunjukkannya ke publik," kata Putin. Bahasa semacam inilah yang dinilai menggambarkan sosok Putin yang tangguh.
Pada 1999, saat memimpin Moskow memerangi separatis Chechnya, ia bersumpah untuk mengejar dan menggiring mereka "keluar dari kakus". Peperangan ini meningkatkan popularitas Putin di mata rakyat Rusia. Putin, saat itu menjabat sebagai perdana menteri, mengirimkan personel militer dalam jumlah besar ke wilayah Chechnya, yang memaksa para pemberontak menyerah. Ia terpilih sebagai presiden pada tahun berikutnya.
Sekarang, sebagai perdana menteri kedua kalinya, setelah menjalani dua kali presiden, Putin memiliki alasan kembali ke kebijakan garis kerasnya seperti masa lalu. Sikap Putin ini disambut oleh banyak orang Rusia, meski menimbulkan kekhawatiran kebebasan sipil akan lebih dikorbankan dengan dalih memerangi terorisme.
Putin menggunakan isu serangan teroris di 2004 untuk mengonsolidasikan kekuasaannya lebih lanjut. Dia menghapuskan pemilihan gubernur, secara efektif memberi Kremlin kekuasaan untuk menunjuk gubernur, dan mendorong para kritikus liberal keluar dari parlemen. Sejak saat itu, oposisi politik telah sepenuhnya terpinggirkan.
Banyak pemimpin oposisi dan aktivis HAM mengkhawatirkan pengeboman subway itu akan jacfif alasan pemerintah menekan oposisi, atau menindak lebih keras, aksi protes jalanan. "Pemerintah kami senang menggunakan peristiwa itu untuk bertindak seperti yang diinginkan," kata Alexeyeva, veteran aktivis HAM. Menurutnya, kejadian ini kesempatan baik untuk lebih membatasi kebebasan konstitusional, dan politisi berpurapura peduli keamanan rakyat.
Lidia Yusupova, aktivis HAM warga Chechnya, mengatakan, "Akan ada tindaan keras pada semua kalangan. Kita tidak punya hak sekarang, tapi akan lebih sedikit lagi yang kita miliki."

Sebelum melihat mobil aneh ini, kami berpikir bahwa mini cooper terkecil yang digunakan oleh Mr.Bean adalah mobil-lamanya, tetapi sekarang kami memiliki pendapat lain. Mobil ini seharusnya terdaftar sebagai Mobil terkecil di dunia selamanya , karena ukuran mobil ini benar-benar jadi kecil. .Saya pikir yang tidak dapat masuk mobil ini .. mungkin ini adalah mobil yang dirancang khusus untuk anak-anak atau orang-orang kecil atau mereka membuat mobil ini untuk kurcaci? just kidding.. just kidding . Anda dapat melihat lebih banyak dunia terkecil mobil pernah gambar di sini ..

Saat Perang Salib, pasukan Eropa dikejutkan oleh pedang yg dimiliki oleh pasukan Arab dan Persia. Pedang mereka dengan mudah menembus baju zirah pasukan crusader, bahkan mampu membelah tameng.
Inilah Pedang Damaskus, terbuat dari baja yg diolah dengan teknik khusus sehingga bisa memiliki permukaan yg sangat kuat dan tajam.
Teknik pembuatan pedang ini begitu rahasia sehingga hanya beberapa keluarga pandai besi di Damascus saja yang menguasainya, ini juga sebabnya teknik pembuatan baja Damascus akhirnya punah. Hingga kini teknologi metalurgi yg paling canggih pun belum mampu membuat pedang yg lebih tajam dari Pedang Damascus.
Pedang Damascus adalah pedang yg paling tajam di dunia, lebih tajam daripada Katana Jepang maupun Kris Indonesia. Selain kuat, baja Damascus juga sangat lentur sehingga betul2 sempurna untuk dijadikan pedang atau pisau. Pedang ini mampu membelah sutera yg dijatuhkan ke atasnya, juga mampu membelah pedang lain atau batu tanpa mengalami kerusakan samasekali.
Sebuah penelitian mikroskopik menemukan bahwa pedang2 ini ternyata memiliki semacam lapisan kaca dipermukaannya. Bisa dikatakan para ilmuwan muslim di timur tengah telah mencapai teknologi nano sejak seribu tahun yg lalu.
Beberapa ahli metalurgi modern mengaku berhasil membuat baja yg sangat mirip dengan baja Damascus, namun tetap belum berhasil meniru 100%.
Teknik pembuatan Pedang Damascus termasuk salah satu pengetahuan Islam yg terhilang. Pedang, tombak dan Pisau Damascus yg tersisa kini tersebar di berbagai Museum di seluruh dunia.

Pada 1938, sebuah tim arkeolog dari Universitas Peking (Beijing) yang sedang melakukan survei gua-gua di pegunungan Baian Kara-Ula, Tibet menemukan sebuah pekuburan dalam salah satu gua yang dibuat dengan sangat rapi, berisi tulang kerangka mirip manusia pada umumnya, kecuali bagian tengkorak kepalanya yang lebih besar, tak sebanding dengan proporsi tubuhnya.
Di tempat yang sama, salah seorang anggota tim juga menemukan sebuah piringan batu berdiameter 22,86 cm, tergeletak pada sebuah sudut gua dan tertutup lapisan debu. Pada bagian tengah piringan tersebut terdapat lubang dan goresan-goresan teratur pada salah satu sisi permukaannya yang menyerupai bentuk karakter tulis berukuran sangat kecil. Para anggota tim yang tak satu pun memahami tulisan tersebut kemudian membawa dan menyimpannya bersama hasil-hasil temuan lainnya ke Universitas Peking.
Sejak itu para ahli di Peking terus berupaya memecahkan maksud tulisan tersebut. Hingga 20 tahun kemudian, Dr. Tsum Um Nui berhasil memecahkan kode tulisan dan membaca pesan yang terkandung padanya. Isi tulisan pada piringan tersebut menceritakan tentang penduduk dari planet lain yang mengalami kerusakan pesawat sehingga terpaksa mendarat darurat di pegunungan Baian Kara-Ula.
Para penduduk lokal setempat (suku Han) yang terkejut dan merasa aneh dengan penampilan fisik para pendatang tersebut menyangka mendapat ancaman lalu berusaha memburu dan membunuh mereka. Para pendatang yang juga terdapat perempuan dan anak-anak menjadi panik dan berusaha menyelamatkan diri dengan bersembunyi pada gua tempat ditemukannya piringan batu tersebut, namun banyak diantaranya yang terbunuh. Kerusakan pesawat yang parah dan keterisolasian lokasi membuat mereka tidak dapat memperbaiki pesawatnya.
Tulisan tersebut juga mengidentifikasikan mereka sebagai kaum Dropa. Keterangan yang tertulis pada piringan batu tersebut ternyata mirip dengan legenda yang ada di masyarakat lokal setempat, yaitu tentang munculnya makhluk dari angkasa yang berbadan kurus kecil tetapi berkepala lebih besar.
Pada 1965, telah berhasil ditemukan 716 piringan batu sejenisnya dari gua yang sama. Seorang ahli dari Rusia bernama W. Saitsew yang melanjutkan penelitian Dr. Tsum Um Nui melaporkan bahwa piringan batu tersebut terbuat dari campuran kobalt dan sejenis metal yang tidak dikenal, diduga adalah bagian komponen suatu sirkuit elektris. Sedangkan pada suatu sisi dinding gua, juga ditemukan gambar matahari, bulan, sebuah bintang yang belum teridentifikasikan dan planet bumi yang keseluruhannya dihubungkan oleh sebuah garis titik-titik. Dari hasil penelitian diketahui bahwa temuan-temuan di gua tersebut (termasuk piringan batu) telah berusia kurang lebih 12.000 tahun.
Kini, di area sekitar gua tempat ditemukannya piringan batu masih dihuni oleh dua suku yang terisolir bernama Han dan Dropa. Mereka bukan seperti orang Tiongkok maupun Tibet, bahkan penampilan fisiknya berbeda dengan orang kebanyakan, badannya kurus dan lemah, tingginya tak melebihi 1,5 meter.&background